Disangka Makam Ternyata Istana, Ini Perjalanan Ekskavasi Situs Kumitir

Posted on

Team ekskavasi Situs Kumitir sudah mengakhiri step ekskavasi 4 Agustus-9 September 2020. Ini ialah situs ekskavasi paling besar di Mojokerto, Jawa Timur, yang sempat melahirkan sangkaan kehadiran candi baru berbentuk makam (pendharmaan) warisan Kerajaan Majapahit.

Satu bulan penuh mempelajari di tempat situ, ketua team Wicaksono Dwi Nugroho menarik simpulan tidak sama dari sangkaan awal itu. Menurut arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur itu, susunan talud, dinding, artefak, serta inskripsi yang diketemukan di tempat di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, itu tidak kemungkinan sebatas makam.

“Sangkaan kami sesaat, Situs Kumitir adalah sisa kompleks puri atau pesanggrahan Bhre Wengker yang dalam Kitab Negarakertagama disebutkan ‘Istana ajaib’,” kata Wicaksono di tempat ekskavasi, Sabtu sore, 12 September 2020.

Bhre Wengker sendiri adalah wakil Raja Majapahit yang berkuasa di wilayah selatan, mencakup Tulungagung, Trenggalek serta Ponorogo. Berdasar Negarakertagama, kata Wicaksono, Bhre Wengker atau Wijayarajasa membuat pendharmaan di kompleks puri untuk Ceritanghamurti atau Mahesa Cempaka yang wafat sesudah 1268.

Mahesa Cempaka bukan seorang raja

Mahesa Cempaka, anak Ken Arok dari Ken Dedes, masih terhitung leluhur Bhre Wengker. “Sebab Mahesa Cempaka bukan seorang raja, oleh Bhre Wengker dia dibuatkan candi tetapi tidak besar,” tuturnya.

Ekskavasi sempat dilaksanakan pada Oktober tahun kemarin. Waktu itu team arkeolog tiba sesudah masyarakat pembikin batu bata di desa itu mendapatkan konstruksi talut atau turap dari formasi bata selama 187,2 mtr.. Penggalian oleh pakar arkeologi lantas mendapatkan konstruksi itu rupanya bertambah panjang lagi.

“Itu penyebabnya kami coba ekskavasi lagi untuk memperlihatkan Situs Kumitir. Benarkah ini ialah pendarmaan Mahisa Cempaka,” kata Wicaksono dalam penjelasannya diawalnya ekskavasi bulan kemarin.

Keseluruhannya penggalian dilaksanakan di tempat seluas 312 x 250 mtr. persegi atau seputar enam hektare. Penggalian yang menyertakan 55 tenaga kerja dari masyarakat ditempat serta 40 tenaga pakar atau tehnis dari Balai Pelestarian Cagar Budaya. Itu sudah sukses ungkap kehadiran susunan bata membuat bangunan disangka makam yang disebut ditengah-tengah situs itu.

Beruntungnya, tempat itu pas ada di bawah tanah kas desa hingga ekskavasi tetap dilaksanakan tanpa ada terhalang pergantian tukar rugi. Tetapi bukan untuk beberapa tempat penemuan talut. Wicaksono mengutarakan jika situs keseluruhnya ada di tempat 32 pemilik tempat. Izin serta perbincangan kompensasi masih berjalan di beberapa tempat itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *